Tawadhu dalam Islam
Islam adalah agama pungkasan dan paripurna bagi
agama-agama samawi lainnya. Islam telah memberikan tuntunan hidup manusia pada segala aspeknya, terlebih akhlak
sebagai inti dari risalah mulianya. Sikap tawaduk –salah satu di antaranya-
merupakan sifat yang Islam sendiri telah mendorong umatnya untuk selalu
berpegang teguh dengannya, dan sebaliknya menyeru untuk menjauhkan diri dari
sifat takabbur (sombong).
وعباد الرحمن الذين يمشون في الأرض هونا وإذا
خاطبهم الجاهل قالوا سلاما
“Dan hamba-hamba Tuhan
Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata yang baik.” (QS : Al-Furqan: 63)
Sebaliknya Allah tidak menghendaki hamba-hambaNya untuk bersikap arogan:
ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الأرض مرحا إن
الله لا يحب كل مختال فخور
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari
manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh,
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS : Luqman: 18)
Sebuah teladan dari Sahabat
Contoh kasus penerapan sifat mulia ini telah
banyak diriwayatkan dalam perjalanan hidup para Sahabat, salah satunya Imam Abu
Bakar Ash Shiddiq. Memerah susu kambing kala itu sudah menjadi kebiasaan Sidna
Abu Bakar. Susu perahan itu yang nantinya akan dikirimkannya kepada segolongan
para pemudi kota Madinah untuk membantu urusan mereka. Ketika beliau ra
menjabat sebagai khalifah para pemudi berkata, “Abu Bakar kini telah menjadi khalifah
dan pasti beliau tidak akan lagi memerah susu kambing untuk kita”. Tapi kenyataannya
berkata lain, beliau tetap memerahkan susu untuk membantu mereka, tidak ada
yang berubah dan tidak berhenti mengerjakan ini oleh karena disebabkan jabatan
barunya.
Lagi, di antara keagungan sifat tawadhu dan
kemuliaan akhlaknya Amirul Mukminin Umar bin Khathab, khalifah ke-2 setelah Abu
Bakar Ash Shiddiq, suatu ketika beliau memikul sekarung tepung dengan
punggungnya sendiri dan pergi mengantarkannya ke rumah seorang janda miskin
yang tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada anak-anaknya yang masih
kecil lagi yatim. Tidak berhenti sampai di situ Sayyiduna Umar menyalakan api dan terus
meniupinya hingga makanannya matang. Beliau tidak beranjak pergi kecuali
setelah memastikan bahwa anak-anak telah makan dan kenyang.
Pengertian tawadhu
Dari tadi kita menyebutkan kata tawadhu, memang
apa sih tawadhu itu? Singkatnya, pengertian tawadhu adalah apa yang dituturkan
oleh Abdullah Ibnul Mubarak –rahimahullah-, menurutnya inti tawadhu adalah engkau
merendahkan dirimu di hadapan orang yang ada di bawahmu dalam hal kenikmatan
dunia, hingga engkau mengajarkan kepadanya bahwa keduniaanmu tidak bernilai
apa-apa di hadapan dia. Dan engkau mengangkat dirimu di hadapan orang yang
berada di atasmu dalam hal kenikmatan dunia, hingga engkau mengajarkan
kepadanya bahwa keduniaannya tidak bernilai apa-apa dihadapanmu (dibandingkan
kenikmatan akhirat).

👍
ReplyDelete