Adab; Definisi dan Implementasi

 

    Pada tulisan sebelumnya saya telah menulis tentang sesuatu yang hilang dari para penuntut ilmu khususnya generasi milenial. Saya ingin katakan kalaupun tidak sepenuhnya hilang maka boleh kita katakan ia pudar. Maka kali ini saya akan menulis tentang apa yang dimaksud adab, bagaimana penerapan dan kepada siapa saja seorang penuntut ilmu menerapkan adab .

    Sebelum masuk pembahasan, saya ingin memeberi sedikit disclaimer bahwa jika disebut kata “penuntut ilmu” di sini bukan berarti hanya terbatas pada penuntut ilmu agama, akan tetapi juga mencakup semua yang berstatus penuntut ilmu, baik agama, maupun yang lainnya. Karena di dalam Islam sendiri tidak ada dikotomi antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya. Semua memiliki value kemuliaannya masing-masing di sisi Allah.

    Oke langsung saja untuk pertama ini kita akan membahas apa itu adab. Mungkin beberapa di antara kita ada yang beranggapan bahwa beradab itu ketika kita berjalan harus menunduk, harus tersenyum setiap saat, ketika tertawa tidak boleh terbahak-bahak. Iya, mungkin itu sebagian yang terpintas di benak, tapi benarkah demikian, atau hanyakah itu saja? Memangnya apa sih adab itu?

  


 Pengertian adab adalah kegiatan melakukan perbuatan terpuji dan meninggalkan perbuatan tercela. Dan yang dimaksud adab di sini adalah adab secara umum baik kepada Allah, kedapa orangtua dan saudar kerabat, kepada para guru dan kawan, serta kepada manusia secara umum, baik itu di rumah, sekolah, pasar, jalan, dan di manapun.

    Lalu siapa sajakah objek yang harus kita beradab dengannya? Nah, pada masalah pembagian adab di sini saya ingin merangkum dari kitab tadzkiratus saami’ wal mutakallim fii adabil alim walmutaallim karya Imam Ibnu Jamaah, sebuah kitab bertemakan akhlak yang sebelumnya pernah kami pelajari juga.

    Pada buku ini beliau membagi adab penuntut ilmu menjadi tiga bab:

    Bab pertama: adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri. Bab kedua: adab penuntut ilmu terhadap guru. Bab ketiga: adab terhadap pelajaran dan belajarnya di majelis terhadap guru dan teman-temannya.

    Untuk adab terhadap diri sendiri beliau menyebutkan ada sepuluh macam;

    Macam yang pertama : Seorang penuntut ilmu hendaknya membersihkan dirinya dari segala muslihat, noda, dongkol, dengki, itikad dan akhlak yang buruk agar mudah baginya menerima ilmu menghapalnya dan menemukan makna-makna yang terdalamnya.

    Imam Ibnu Hajib menganalogikan ilmu sebagai ibadah hati dengan shalat sebagai ibadah zahir. Sebagaimana tidak sah shalat (yang mana ia adalah ibadah gerakan tubuh yang zahir) kecuali bersuci dari hadas, maka tidak sah pula ilmu (yang mana ia adalah ibadah hati) kecuali jika bersuci dari sifat-sifat buruk dan hadas akhlak buruk dan tercela.

    Macam yang kedua : Niat yang baik dalam menuntut ilmu dengan tujuan hanya mengharap ridho Allah semata, serta mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat, menerangi hati, menghiasi batin, dekat dengan Allah pada hari kiamat, dan mengharap apa yang telah dijanjikan bagi para ahli ilmu, dan keagungan keistimewaan ilmu. Bukan untuk tujuan duniawi seperti halnya untuk meraih kepemimpinan, kedudukan, harta, dan berbangga-bangga terhadap yang lain, agar orang-orang menghormatinya, dan dielu-elukan di majelis-mejelis ilmu, dsb. Karena dengan demikian dia telah mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang rendah.

    Macam yang ke-3 : Menggunakan masa mudanya dan waktu-waktunya untuk produktif menimba ilmu. Dan tidak terpedaya dengan taswif (sikap menunda-nunda), karena setiap waktu yang berlalu tidak akan pernah tergantikan. Kemudian menyingkirkan hal-hal yang melalaikan membuat tidak fokus, dan halangan-halangan yang menghalangi proses menuntut ilmu, dan berupaya bersungguh-sungguh.

    Macam yang ke-4 : Bersikap menerima (qana’ah) terhadap makanan yang dia miliki meskipun sederhana, begitu juga dalam hal sandang. Karena bersabar atas himpitan hidup membuat seorang penuntut ilmu dapat memperoleh ilmu yang luas, dan terpancarlah dari dalam dirinya sumber air mata hikmah.

    Macam yang ke-5 : (bersambung....)

Untuk yang kelima dan seterusnya kita tahan dulu ya, guys. Imam Ibnu Jamaah sebenarnya menyebutkan untuk adab penuntut ilmu terhadap diri sendiri ada 10 macam, tapi kita batasi sampai 7. Dan seterusnya adab penuntut ilmu terhadab pelajaran, guru, dan kawan masing-masing ada macam-macamnya juga.

Mengapa tidak saya lanjutkan sekalian? Jujur hari ini saya sangat letih, banyak kegiatan yang melibatkan fisik dan pergulatan emosi terjadi (beuuh). Tulisan ini pun saya sempat-sempatkan menulisnya setelah pulang dari pengajuan proses administrasi yang pendaftaran untuk studi program  postgraduate saya yang kurang beruntung di Hay Sadis dan tragedi tutupnya toko jahit kakula yang ada di Hay Sabi’. Lain waktu mungkin akan saya ceritakan perjuangan ini. Duh malah curhat. Yasudah itu dulu ya, guys. Bye...




Saya ke lantai 9 kantor tansiq



tetap senyum walau pakai masker :D

Comments

Popular posts from this blog

Berfikir Berkarya Berbagi

Al-Azhar I'm Coming to You (bagian 1)