Adab;
Yang Luput dari Para Penuntut
Ilmu Era Milenial
Perkembangan dan
kemajuan teknologi telah menghantarkan manusia pada banyak ruang kemudahan. Di mana pun dan kapan pun seseorang bisa dengan mudahnya untuk mengakses segala yang dia butuhkan, tak
terkecuali dalam bidang ilmu dan pengetahuan. Secara gratis mereka bisa mendapat bahkan apa yang bisa dinikmati oleh
orang-orang yang berada di
luar negeri. Hanya dengan
membuka gawai milik pribadi memungkinkan seorang untuk menjelajah, menyingkap
tabir dunia. Tapi dengan berbagai fasilitas yang
memudahkan untuk sampainya jutaan maklumat itu, mengapa seolah ilmu malah menjadi "kering", bagai muara yang kehilangan
hilirnya.
Ilmu. Tidak diragukan
lagi jika ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Di mata manusia seorang menjadi memiliki nilai lebih jika dia berilmu. Al-Quran telah bersaksi bahwa orang yang
berilmu dengan yang tidak itu tidaklah sama, dan Allah senantiasa mengangkat
derajat orang berilmu. Akan tetapi, -tanpa mengesampingkan keutamaan ilmu- kita boleh bertanya, jika kita perhatikan
dewasa ini ada yang hilang dari para penuntut ilmu (baik agama maupun umum).
Sesuatu yang menjadi ruh bagi kehidupan ilmu tersebut, sebut saja ia adalah
adab. Jika
memang intelek mengapa masih banyak para tokoh melakukan tindak korupsi? Jika memang
pintar mengapa masih ramai para siswa yang begitu pulang sekolah melawan
orangtua? Jika memang terpelajar mengapa masih banyak sesama status mahasiswa
saling terjadi bentrok? Dan masih banyak lagi "jika memang" yang lain.
Kanyataan yang
kita hadapi adalah sebuah fenomena yang sulit dihindari dan sulit untuk dibendung. Nyaris hilang dari zaman ini sesuatu yang lebih penting dan utama daripada ilmu itu
sendiri. Ialah adab. Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak ada kebaikan
pada ilmu jika tidak dibarengi adab, dan pengetahuan tidak ada nilainya jika tidak dihiasi akhlak mulia.
Maka sering kita dapati
ada seorang penuntut ilmu yang pintar lagi cerdas, akan tetapi akhlaknya tidak
baik maka akan jatuh dari pandangan orang. Sebaliknya, kita dapati penuntut
ilmu yang sederhana tidak begitu pintar tetapi memiliki akhlak yang baik sehingga orang akan menghormatinya.
Kita telah banyak
mendengar bahwasanya Al-Quran telah mensifati manusia paling mulia yang Allah
jadikan beliau sebagai role model bagi hambaNya yang
menginginkan jalan keselamatan dunia akhirat, Nabi Muhammad Saw, dan bunyi ayatnya begini :
وإنْك لعلى خلق عظيم
“Dan sungguh engkau (Muhammad) berada di atas
akhlak yang agung”
Dan bukanlah
diutus untuk memperbaiki infrstruktur, jembatan dan gedung-gedung, bukan pula
menjadikan orang miskin menjadi kaya, bukan pula menjadikan orang sakit menjadi
sehat. Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw diutus ke muka bumi ini dengan membawa
misi mulia utamanya yaitu “li utammima makarimal akhlaq” supaya
menyempurnkan akhlak manusia.
Para ulama
terdahulu telah melalui jalan yang diajarkan nabi dalam rangka menghias diri
dengan adab. Ada sebuah kisah, yang mana kisah ini diceritakan oleh Imam Malik-
rahimahullah- sendiri, suatu hari beliau hendak berangkat ke majelis ilmu, sang
ibu mengenakan untuknya imamah (sorban) di kepala beliau, lantas berpesan
kepadanya “Pergilah kepada Rabi’ah (guru beliau). Pelajarilah adabnya sebelum
kamu mempelajari ilmu darinya.”
Akhir kalam,
akses pengetahuan kita hari ini dengan kemajuan bidang teknologi memang telah mendapat
banyak kemudahan. Dan tidak dipungkiri bahwa terdapat banyak hal dan kegiatan keilmuan,
pendidikan, dan belajar-mengajar yang memang dipusatkan untuk menggunakan fasilitas
moderen ini. Tapi menjadi tugas kita juga untuk selalu berbenah diri membekali
diri dengan adab dan akhlak terpuji, sehingga ilmu yang kita dapat tidak hanya sebatas teks
yang dihapal, tapi juga ia melahirkan kesejukan akhlak dari orang yang si empunya ilmu.
Semoga Allah
memperbaiki keadaan kita...

Comments
Post a Comment